Kemaren pagi hati gue patah pas lihat berita di TV. Perdana menteri Malaysia ngumumin kalo MH370 yang udah ilang selama dua mingguan ini fix ‘berakhir’ di samudera hindia deket perth. Gue langsung nangis. Gue ngga ngebayangin gimana perasaan keluarga penumpang dan awak pesawat yang ditinggalkan. Sekian lama nunggu kabar dari pesawat itu, berharap kalo semuanya baik-baik aja, tapi ternyata kenyataannya bikin hati sakit.
Kebetulan di twitter, gue follow Maira Elizabeth (@gorxous_) anak dari chief steward yang jadi korban kecelakaan pesawat itu. Gue termasuk yang mantau tweet dia dari awal kejadian ini. Dini hari tanggal 25 maret, setelah konferensi pers tentang berita itu, Si Maira ngetweet:
“I don’t know what to say, what to think. I feel so lost, so blank. I’m just so tired. Goodnight, daddy. Sigh.. * hugs *”
Setelah baca tweet itu gue langsung nangis. Sekitar 30 menit ngga berenti-berenti tuh aermata keluar. Entah kenapa rasanya sedih banget.
Hidup gue emang ‘deket’ dengan pesawat. Makanya setiap ada kejadian kecelakaan pesawat macem ini gue sedih sekaligus takut. Ayah tercinta kerja di penerbangan. Pas keluarga gue masih tinggal di Manado, Ayah sering ngajak gue ke hangar. Waktu kecil juga gue sempet pengen jadi pilot. Dan sekarang malah kakak gue yang bakal jadi calon pilot (insyAallah. Aamiin)
Ya…ini semua memang udah jadi takdir yang dikehendaki Allah. Walaupun emang pesawat adalah transportasi dengan tingkat kecelakaan terkecil karena teknologinya tinggi, tapi ya tetep aja itu semua kan cuma buatan manusia.
Jadi inget salah satu pilot senior yang jadi narasumber di TVOne kemaren bilang gini:
“kita ngga bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus ini jika semua penumpang dan awak yang ada di pesawat itu meninggal. Ini adalah case Wallahualam bishawab.”
Ps: dibuat setelah nangis lagi gegara baca timelinenya Maira..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar